Panggih Jati Pratama

Rabu, 04 Januari 2017

Cerita Pendek Si Peri Kejutan


Ditulis oleh Panggih Jati



                Bulan Juli tahun 2015, aku mulai merasakan nikmatnya duduk dibangku Kejuruan. Aku bersekolah di SMKN  1 Depok, tempat dimana muda – mudi menimba ilmu keahlian mereka masing – masing. Aku duduk di paket keahlian Rekaya Perangkat Lunak.  Mulanya aku agak sungkan untuk berbaur dengan teman -  teman kelasku. Aku mulai memberanikan diri untuk berbaur bersama teman - teman lelakiku laksana pandai yang ditempa. Hari demi hari kami lewati dengan canda tawa dan mengekspresikan apa yang terkubur dalam diri kita masing – masing. Kami mulai menyatukan hobby kita yakni dengan bermain futsal. Kelas kami lalu berinisiatif untuk membuat jersey futsal dengan nama masing – masing.
                Bulan demi bulan kami lalui dengan berbagai lawan yang kita hadapi, menang kalah itu sudah bukan hal yang tabu lagi bagi kami dalam permainan futsal. Hingga tiba pada waktunya kita mulai bosan dengan apa yang kita jalani sekarang. Lalu kami mencoba kesibukan baru, bermain volly lah kesibukan kami selanjutnya. Namun itu tak bertahan lama karena itu bukan keahlian kita semua. Kami kembali lagi ke permainan kita yang dulu, bermain futsal walau ada rasa jenuh diantara kita semua. Dan ada seorang temanku yang menyarankan agar pada saat kita bermain futsal tidak jenuh. “Bagaimana kalau kita membawa seorang yang spesial dalam hidup kita ke pertandingan futsal, supaya kita semangat” ujar Wage sapaan akrab Rizki Gumilang. “Tidak – tidak, gapunya cewe nih” saut Ridho dengan cepat bagai roket yang meluncur ke angkasa raya.
                Teman – teman lain pun tak sependapat dengan saran dari Wage. Terlihat murung wajah Wage disaat sarannya tidak disepakati. “Mau bagaimana lagi? Kita semua kan tidak ada yang mempunyai pacar” celetuk Arya dengan wajah sedikit kusam. Jam mulai berdetak  cepat, dan akhirnya kami semua tak ada yang menemui cara agar kita tidak bosan disaat bermain futsal. Mentari senja pun mulai pergi tuk membangunkan sang rembulan. Hujan yang rintik menahan kami semua di lapangan futsal. Selama hujan masih bergelut dengan aspal jalanan, kami semua pun berbincang – bincang entah apa itu yang diperbincangkan.
                Kami semua memberanikan diri untuk bertarung dengan hujan yang bermain keroyokan. Kami semua langsung bergegas menuju kerumah masing – masing termasuk aku. Sesampainya dirumah, aku langsung mandi dengan cepat. Jam menunjukkan 90° dini hari. Saat aku mulai memejamkan mata, ayam pun sudah memulai paduan suaranya diiringi oleh dirigennya. Susah tidur aku rasanya, hingga sang surya sudah selesai membangunkan rembulan dan kembali untuk menunjukkan eksistensinya. Suara panggilan adzan fajar pun sudah terdengar di telingaku dan langsung aku beribadah. Beruntung saja hari ini adalah hari Minggu, bisa tidur sepuasnya aku. Aku tertidur dari adzan fajar hingga bedug dzuhur dikumandangkan, betapa lelah dan ngantuknya aku jikalau pulang larut malam.
                Senin pun tiba, aku dan teman – temanku mengikuti upacara penaikan Sang Merah Putih agar berkibar di semesta raya. Setelah selesai mengikuti upacara, kami semua pun memasuki kelas dan kembali bersenda gurau sebelum guru masuk untuk mendidik kami. Dentang bel istirahat pun terdengar, kami semua langsung bergegas menuju kantin. Kami mulai membahas bagaimana caranya agar kita tidak suntuk disaat bermain futsal. Dan kami semua kompak untuk mengikuti saran dari Wage pada saat larut malam kemarin. Jum’ at sepulang sekolah, kami memiliki rutinitas bermain futsal. Dan aku pun datang lebih awal dari teman – temanku. Jenuh rasanya menunggu teman – temanku yang lama tibanya bagaikan menguras lautan dengan sendok ataupun menyapu di hamparan padang pasir.
                Satu persatu mereka mulai berdatangan, setelah semua sudah berkumpul ada satu orang yang belum hadir, “Wage” saut Nicko. “Mana nih si Wage? Lambretong deh” celetuk Gunawan. Dari pelupuk mata terlihat samar – samar wajah Wage menggunakan motor berwarna merah dengan seorang yang diboncengnya. “Ge, bawa cewe siapa tuh?” ungkap Sauqi. “Doi nih gan, mana nih punya kalian?” ujar Wage dengan wajah angkuh. Kami semua pun terdiam dan meratapi nasib. Lalu kami pun bermain futsal dengan seorang perempuan dipinggir lapangan, bukan untuk menyemangati tim kami namun hanya memberi semangat Wage. Lesu semua kami pada pertandingan itu. Setelah pertandingan itu, satu persatu teman – teman ku mulai membawa pacar mereka ke arena tanding. Hanya beberapa saja yang tidak membawa termasuk aku. 
                Aku mulai berfikir keras, bagaimana caranya agar aku bisa membawa orang yang spesial ke lapangan hijau. Hari – hari pun aku lewati dengan berfikir keras laksana menambal ban kereta. Pada saat jam istirahat, seperti biasanya aku mengikutin teman – temanku ke kantin untuk makan. Dari kejauhan terlihat pipi merah merona menuju ke kantin. Rambut yang tergulai lemas menandakan panasnya siang ini. Saat dia mulai jalan keluar dari kantin, beberapa orang pun bersorak atas keelokan dia termasuk aku. Setiap aku ke kantin selalu nampak wajah gadis itu, aku mulai memberanikan diri untuk mulai bercengkrama.
                Ani namanya, Akutansi paket keahlian yang ia pilih. Setelah lama bercengkrama, bel masuk pun berdentang, obrolan kami pun terputus akhirya. Entah apa yang kami berdua perbincangkan. Lalu kami berpisah dan menuju kelas masing – masing. Aku memikirkannya walau aku sedang dalam perjalanan pulang kerumah. Malam yang sunyi dan terdengar suara angin bernyanyi serta rasi bintang di angkasa yang mulai melukis wajahmu. Begitu jelas wajahmu nampak yang dilukis oleh si rasi bintang. Rembulan pun tak mau kalah untuk ikut bersinar terang seperti wajahmu. Meski angin dapat menghapus semua rindu namun tidak dengan semua rinduku padamu. Hari esok pun datang, aku pun mulai sering bercengkrama dengan Ani. “Ani, pulang bareng yu,” tanyaku pada Ani. “Hmmm..boleh juga tuh” jawab Ani dengan wajah sedikit tersipu malu. Usai dentang bel sekolah menjerit, aku dan Ani pun menikmati perjalanan pulang yang diiringi oleh dentuman katak yang berirama. Setiap pulang sekolah kami pun sudah terbiasa bersama dan menikmati setiap hari yang kita lewati bersama dengan canda tawa. Hingga aku mempunyai pikiran untuk membawa Ani ke lapangan hijau. “Tapi, bagaimana caranya ya agar Ani mau ikut bersama ku ke arena tanding?” tanya pada diriku sendiri.
                Berhari – hari aku berfikir keras agar bisa membujuk Ani ikut bersama aku ke lapangan futsal. Dan pada akhirnya aku mendapat pencerahan, “Aku pinjam saja bukunya Ani, trus aku tulis deh di bukunya Ani kalau dia mau ikut aku ke lapangan futsal apa engga” ide yang terlintas dalam benakku. Pada saat isitirahat aku bertanya pada Ani tentang mata pelajaran Bahasa Indonesia ku yang belum lengkap catatanya. “Ani aku boleh pinjam buku catatan Bahasa Indonesia mu ga? Belum lengkap nih catatanku” tanyaku pada Ani. “Boleh kok” timpal Ani dengan gesit. “Yeahhh” sorak hatiku. Setelah aku membawa buku Ani kerumah dan langsung aku tulis saja di halaman tengah apa yang sudah aku rencanakan.
                Keesokan harinya, aku kembalikan bukunya Ani pada saat bel masuk belum bergejolak keras. Ini buku catatanmu “terimakasih ya” ucapku pada Ani. “Iya sama – sama” jawab Ani dengan wajah berseri – seri. Esoknya Ani menemuiku tepat didepan kelasku dengan wajah sedikit malu, dan berkata “hmm, aku malu kalau ikut kamu ke lapangan futsal”. “Yasudah jangan dipaksakan kalau tidak memungkinkan” ujarku dengan lembut dan senyum. “Kita habiskan saja masa – masa indah kita di sekolah ini hingga pada saatnya tiba, dimana cincin emas melingkar dan janur kuning pun berkibar” timpalku. Lalu Ani pun beranjak pergi dari depan hadapanku dengan melempar senyuman tersipu malu. “Yahh gagal deh aku bawa seorang yang spesial ke arena tanding, tapi tak apalah” ucapan yang terlintas dalam benakku.
                Meski tak bisa aku ajak ke lapangan hijau, setidaknya aku masih bisa bersamamu wahai peri yang turun dari khayangan. Disaat mulai kelas 11 dan mulai untuk prakerin, aku prakerin selama 3 bulan dan Ani pun demikian. Suatu hari dimana aku sedang pulang prakerin dan melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Ani sedang boncengan dengan seorang lelaki. “Ani sama siapa tuh ?” tanyaku pada diri sendiri dengan wajah heran. Hari demi hari aku mulai menyelidiki sikap aneh yang ditunjukkan Ani kepadaku. Setelah aku selidiki hampir selama 1 bulan dan aku mulai mencium penyebabnya. “Jangan – jangan Ani mulai berpaling dariku? Ah sudahlah” pikirku keheranan.
                Saat aku makan di pinggir jalan sepulang prakerin dan aku melihat Ani dari kejauhan dengan pelupuk mataku dengan lelaki yang sama. Saat itu juga langsung aku hadang motor laki – laki itu bersama Ani. “Hey siapa kamu? Mengapa kamu berboncengan dengan Ani? Ani, kamu mulai berubah sejak kamu kenal dengan lelaki ini!” kuucapkan dengan meluapkan amarahku. Lelaki itu bersama Ani pun terdiam dan langsung menancapkan gas motornya untuk menjauh dariku. “Ahhhhhh” kesal sekali aku rasanya pada hari itu. Hampir sebulan aku loss kontak dengan Ani, aku masih menyimpan rasa kesal disaat kejadian hari lalu. Mulai gundah aku bila Ani tidak memberi kabar kepadaku, aku mulai memberanikan diri untuk menelpon Ani dan alhasil tidak diangkat olehnya. Tambah kesal aku pada Ani, “apa yang terjadi pada Ani akhir – akhir ini?” heranku yang tak habis – habis terhadap Ani. “Akankah ini akhir dari masa – masa indah kita ?” renunganku di senja hari. Jam dinding pun seakan mulai tertawa melihat kisah hidupku. 
                 Untuk sementara lupakanlah cinta, nikmati yang ada saja. Aku pun mulai kembali pada aktifitasku yakni bermain futsal bersama kawan – kawan seperjuanganku. Disaat aku sedang bermain futsal, terdengar samar – samar suara perempuan dengan memanggil namaku “ayo Panggih kawal gawangmu seperti kau kawal hatiku”. Mataku pun langsung tertuju pada sosok wanita di pinggir lapangan, “wah ternyata kamu Ani, ada gerangan apa kamu dateng kesini bersama pacarmu ?” tanyaku dengan wajah bingung. “Ini kan hari ulang tahunmu, jadi aku kesini untuk memberi kejutan buat kamu dan lelaki disampingku ini bukanlah pacarku” jawabnya dengan wajah berseri – seri. “Lantas siapa lelaki ini?”tanyaku masih keheranan. “Lelaki ini tuh kakakku” jawab Ani dengan lembut. “
                Sontak kaget seketika itu sekujur tubuhku, ternyata yang selama ini aku pikirkan itu salah. Jadi selama ini Ani sudah jauh – jauh hari merencanakan untuk memberi kejutan padaku. Selama ini aku selalu berpikiran negatif padamu, “Jadi pas pertama kali kamu aku ajak untuk ke lapangan futsal dan ga mau, ini alasannya?” introgasiku pada Ani. “Yupp betul sekali” jawab Ani, “darimana kamu tahu ulang tahunku?” tanyaku. “Rahasia dehh” balas Ani dengan wajah senyum. Tak penting tahu darimana ulang tahunku, yang terpenting ialah saat ini aku merasa senang dengan apa yang Ani lakukan padaku sekarang. “Terimakasih ya Ani..” ucapku, “Iya sama – sama”.
                Malam ini pun seakan malam syahdu, katak mulai bernyanyi dan angin mulai menyelimuti malam yang dingin. Kami pun akhirnya menikmati malam yang tersisa di hari ulang tahunku dengan seraut wajah penuh senyuman. Malam dimana aku tidak akan melupakan bagaimana perjuangan Ani dalam memberi kejutan pada hari ulang tahunku. Semoga kita berdua senantiasa selalu bersama dalam suka maupun duka yang menerpa.



---TAMAT---

0 komentar:

Posting Komentar