Ditulis oleh Panggih Jati
Bulan
Juli tahun 2015, aku mulai merasakan nikmatnya duduk dibangku Kejuruan. Aku
bersekolah di SMKN 1 Depok, tempat
dimana muda – mudi menimba ilmu keahlian mereka masing – masing. Aku duduk di
paket keahlian Rekaya Perangkat Lunak.
Mulanya aku agak sungkan untuk berbaur dengan teman - teman kelasku. Aku mulai memberanikan diri
untuk berbaur bersama teman - teman lelakiku laksana pandai yang ditempa. Hari
demi hari kami lewati dengan canda tawa dan mengekspresikan apa yang terkubur
dalam diri kita masing – masing. Kami mulai menyatukan hobby kita yakni dengan
bermain futsal. Kelas kami lalu berinisiatif untuk membuat jersey futsal dengan
nama masing – masing.
Bulan
demi bulan kami lalui dengan berbagai lawan yang kita hadapi, menang kalah itu
sudah bukan hal yang tabu lagi bagi kami dalam permainan futsal. Hingga tiba
pada waktunya kita mulai bosan dengan apa yang kita jalani sekarang. Lalu kami
mencoba kesibukan baru, bermain volly lah kesibukan kami selanjutnya. Namun itu
tak bertahan lama karena itu bukan keahlian kita semua. Kami kembali lagi ke
permainan kita yang dulu, bermain futsal walau ada rasa jenuh diantara kita
semua. Dan ada seorang temanku yang menyarankan agar pada saat kita bermain
futsal tidak jenuh. “Bagaimana kalau kita membawa seorang yang spesial dalam
hidup kita ke pertandingan futsal, supaya kita semangat” ujar Wage sapaan akrab
Rizki Gumilang. “Tidak – tidak, gapunya cewe nih” saut Ridho dengan cepat bagai
roket yang meluncur ke angkasa raya.
Teman
– teman lain pun tak sependapat dengan saran dari Wage. Terlihat murung wajah
Wage disaat sarannya tidak disepakati. “Mau bagaimana lagi? Kita semua kan
tidak ada yang mempunyai pacar” celetuk Arya dengan wajah sedikit kusam. Jam
mulai berdetak cepat, dan akhirnya kami
semua tak ada yang menemui cara agar kita tidak bosan disaat bermain futsal.
Mentari senja pun mulai pergi tuk membangunkan sang rembulan. Hujan yang rintik
menahan kami semua di lapangan futsal. Selama hujan masih bergelut dengan aspal
jalanan, kami semua pun berbincang – bincang entah apa itu yang
diperbincangkan.
Kami
semua memberanikan diri untuk bertarung dengan hujan yang bermain keroyokan.
Kami semua langsung bergegas menuju kerumah masing – masing termasuk aku.
Sesampainya dirumah, aku langsung mandi dengan cepat. Jam menunjukkan 90° dini
hari. Saat aku mulai memejamkan mata, ayam pun sudah memulai paduan suaranya
diiringi oleh dirigennya. Susah tidur aku rasanya, hingga sang surya sudah
selesai membangunkan rembulan dan kembali untuk menunjukkan eksistensinya.
Suara panggilan adzan fajar pun sudah terdengar di telingaku dan langsung aku
beribadah. Beruntung saja hari ini adalah hari Minggu, bisa tidur sepuasnya
aku. Aku tertidur dari adzan fajar hingga bedug dzuhur dikumandangkan, betapa
lelah dan ngantuknya aku jikalau pulang larut malam.
Senin
pun tiba, aku dan teman – temanku mengikuti upacara penaikan Sang Merah Putih
agar berkibar di semesta raya. Setelah selesai mengikuti upacara, kami semua
pun memasuki kelas dan kembali bersenda gurau sebelum guru masuk untuk mendidik
kami. Dentang bel istirahat pun terdengar, kami semua langsung bergegas menuju
kantin. Kami mulai membahas bagaimana caranya agar kita tidak suntuk disaat
bermain futsal. Dan kami semua kompak untuk mengikuti saran dari Wage pada saat
larut malam kemarin. Jum’ at sepulang sekolah, kami memiliki rutinitas bermain
futsal. Dan aku pun datang lebih awal dari teman – temanku. Jenuh rasanya
menunggu teman – temanku yang lama tibanya bagaikan menguras lautan dengan
sendok ataupun menyapu di hamparan padang pasir.
Satu
persatu mereka mulai berdatangan, setelah semua sudah berkumpul ada satu orang
yang belum hadir, “Wage” saut Nicko. “Mana nih si Wage? Lambretong deh” celetuk
Gunawan. Dari pelupuk mata terlihat samar – samar wajah Wage menggunakan motor
berwarna merah dengan seorang yang diboncengnya. “Ge, bawa cewe siapa tuh?”
ungkap Sauqi. “Doi nih gan, mana nih punya kalian?” ujar Wage dengan wajah
angkuh. Kami semua pun terdiam dan meratapi nasib. Lalu kami pun bermain futsal
dengan seorang perempuan dipinggir lapangan, bukan untuk menyemangati tim kami
namun hanya memberi semangat Wage. Lesu semua kami pada pertandingan itu.
Setelah pertandingan itu, satu persatu teman – teman ku mulai membawa pacar
mereka ke arena tanding. Hanya beberapa saja yang tidak membawa termasuk aku.
Aku
mulai berfikir keras, bagaimana caranya agar aku bisa membawa orang yang
spesial ke lapangan hijau. Hari – hari pun aku lewati dengan berfikir keras
laksana menambal ban kereta. Pada saat jam istirahat, seperti biasanya aku
mengikutin teman – temanku ke kantin untuk makan. Dari kejauhan terlihat pipi
merah merona menuju ke kantin. Rambut yang tergulai lemas menandakan panasnya
siang ini. Saat dia mulai jalan keluar dari kantin, beberapa orang pun bersorak
atas keelokan dia termasuk aku. Setiap aku ke kantin selalu nampak wajah gadis
itu, aku mulai memberanikan diri untuk mulai bercengkrama.
Ani
namanya, Akutansi paket keahlian yang ia pilih. Setelah lama bercengkrama, bel
masuk pun berdentang, obrolan kami pun terputus akhirya. Entah apa yang kami
berdua perbincangkan. Lalu kami berpisah dan menuju kelas masing – masing. Aku
memikirkannya walau aku sedang dalam perjalanan pulang kerumah. Malam yang
sunyi dan terdengar suara angin bernyanyi serta rasi bintang di angkasa yang
mulai melukis wajahmu. Begitu jelas wajahmu nampak yang dilukis oleh si rasi
bintang. Rembulan pun tak mau kalah untuk ikut bersinar terang seperti wajahmu.
Meski angin dapat menghapus semua rindu namun tidak dengan semua rinduku
padamu. Hari esok pun datang, aku pun mulai sering bercengkrama dengan Ani.
“Ani, pulang bareng yu,” tanyaku pada Ani. “Hmmm..boleh juga tuh” jawab Ani
dengan wajah sedikit tersipu malu. Usai dentang bel sekolah menjerit, aku dan
Ani pun menikmati perjalanan pulang yang diiringi oleh dentuman katak yang
berirama. Setiap pulang sekolah kami pun sudah terbiasa bersama dan menikmati
setiap hari yang kita lewati bersama dengan canda tawa. Hingga aku mempunyai
pikiran untuk membawa Ani ke lapangan hijau. “Tapi, bagaimana caranya ya agar
Ani mau ikut bersama ku ke arena tanding?” tanya pada diriku sendiri.
Berhari
– hari aku berfikir keras agar bisa membujuk Ani ikut bersama aku ke lapangan
futsal. Dan pada akhirnya aku mendapat pencerahan, “Aku pinjam saja bukunya
Ani, trus aku tulis deh di bukunya Ani kalau dia mau ikut aku ke lapangan
futsal apa engga” ide yang terlintas dalam benakku. Pada saat isitirahat aku
bertanya pada Ani tentang mata pelajaran Bahasa Indonesia ku yang belum lengkap
catatanya. “Ani aku boleh pinjam buku catatan Bahasa Indonesia mu ga? Belum
lengkap nih catatanku” tanyaku pada Ani. “Boleh kok” timpal Ani dengan gesit.
“Yeahhh” sorak hatiku. Setelah aku membawa buku Ani kerumah dan langsung aku
tulis saja di halaman tengah apa yang sudah aku rencanakan.
Keesokan
harinya, aku kembalikan bukunya Ani pada saat bel masuk belum bergejolak keras.
Ini buku catatanmu “terimakasih ya” ucapku pada Ani. “Iya sama – sama” jawab
Ani dengan wajah berseri – seri. Esoknya Ani menemuiku tepat didepan kelasku
dengan wajah sedikit malu, dan berkata “hmm, aku malu kalau ikut kamu ke
lapangan futsal”. “Yasudah jangan dipaksakan kalau tidak memungkinkan” ujarku
dengan lembut dan senyum. “Kita habiskan saja masa – masa indah kita di sekolah
ini hingga pada saatnya tiba, dimana cincin emas melingkar dan janur kuning pun
berkibar” timpalku. Lalu Ani pun beranjak pergi dari depan hadapanku dengan
melempar senyuman tersipu malu. “Yahh gagal deh aku bawa seorang yang spesial
ke arena tanding, tapi tak apalah” ucapan yang terlintas dalam benakku.
Meski
tak bisa aku ajak ke lapangan hijau, setidaknya aku masih bisa bersamamu wahai
peri yang turun dari khayangan. Disaat mulai kelas 11 dan mulai untuk prakerin,
aku prakerin selama 3 bulan dan Ani pun demikian. Suatu hari dimana aku sedang
pulang prakerin dan melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Ani sedang
boncengan dengan seorang lelaki. “Ani sama siapa tuh ?” tanyaku pada diri
sendiri dengan wajah heran. Hari demi hari aku mulai menyelidiki sikap aneh yang
ditunjukkan Ani kepadaku. Setelah aku selidiki hampir selama 1 bulan dan aku
mulai mencium penyebabnya. “Jangan – jangan Ani mulai berpaling dariku? Ah
sudahlah” pikirku keheranan.
Saat
aku makan di pinggir jalan sepulang prakerin dan aku melihat Ani dari kejauhan
dengan pelupuk mataku dengan lelaki yang sama. Saat itu juga langsung aku
hadang motor laki – laki itu bersama Ani. “Hey siapa kamu? Mengapa kamu
berboncengan dengan Ani? Ani, kamu mulai berubah sejak kamu kenal dengan lelaki
ini!” kuucapkan dengan meluapkan amarahku. Lelaki itu bersama Ani pun terdiam
dan langsung menancapkan gas motornya untuk menjauh dariku. “Ahhhhhh” kesal
sekali aku rasanya pada hari itu. Hampir sebulan aku loss kontak dengan Ani,
aku masih menyimpan rasa kesal disaat kejadian hari lalu. Mulai gundah aku bila
Ani tidak memberi kabar kepadaku, aku mulai memberanikan diri untuk menelpon
Ani dan alhasil tidak diangkat olehnya. Tambah kesal aku pada Ani, “apa yang
terjadi pada Ani akhir – akhir ini?” heranku yang tak habis – habis terhadap
Ani. “Akankah ini akhir dari masa – masa indah kita ?” renunganku di senja
hari. Jam dinding pun seakan mulai tertawa melihat kisah hidupku.
Untuk sementara lupakanlah cinta, nikmati yang
ada saja. Aku pun mulai kembali pada aktifitasku yakni bermain futsal bersama
kawan – kawan seperjuanganku. Disaat aku sedang bermain futsal, terdengar samar
– samar suara perempuan dengan memanggil namaku “ayo Panggih kawal gawangmu
seperti kau kawal hatiku”. Mataku pun langsung tertuju pada sosok wanita di
pinggir lapangan, “wah ternyata kamu Ani, ada gerangan apa kamu dateng kesini
bersama pacarmu ?” tanyaku dengan wajah bingung. “Ini kan hari ulang tahunmu,
jadi aku kesini untuk memberi kejutan buat kamu dan lelaki disampingku ini
bukanlah pacarku” jawabnya dengan wajah berseri – seri. “Lantas siapa lelaki
ini?”tanyaku masih keheranan. “Lelaki ini tuh kakakku” jawab Ani dengan lembut.
“
Sontak
kaget seketika itu sekujur tubuhku, ternyata yang selama ini aku pikirkan itu
salah. Jadi selama ini Ani sudah jauh – jauh hari merencanakan untuk memberi
kejutan padaku. Selama ini aku selalu berpikiran negatif padamu, “Jadi pas
pertama kali kamu aku ajak untuk ke lapangan futsal dan ga mau, ini alasannya?”
introgasiku pada Ani. “Yupp betul sekali” jawab Ani, “darimana kamu tahu ulang
tahunku?” tanyaku. “Rahasia dehh” balas Ani dengan wajah senyum. Tak penting
tahu darimana ulang tahunku, yang terpenting ialah saat ini aku merasa senang
dengan apa yang Ani lakukan padaku sekarang. “Terimakasih ya Ani..” ucapku, “Iya
sama – sama”.
Malam
ini pun seakan malam syahdu, katak mulai bernyanyi dan angin mulai menyelimuti
malam yang dingin. Kami pun akhirnya menikmati malam yang tersisa di hari ulang
tahunku dengan seraut wajah penuh senyuman. Malam dimana aku tidak akan melupakan
bagaimana perjuangan Ani dalam memberi kejutan pada hari ulang tahunku. Semoga
kita berdua senantiasa selalu bersama dalam suka maupun duka yang menerpa.
---TAMAT---







0 komentar:
Posting Komentar